Montella Sarankan Juventus Fokus ke Liga Champions

Namun, mantan juru taktik Fiorentina itu percaya bahwa Juventus tidak akan kehilangan konsentrasi mereka bermain di tiga kompetisi, karena Bianconneri pernah melakukan hal serupa pada tahun 2015 silam, saat menembus babak final Liga Champions Eropa dan berada di ambang Treble winner.

Jelang pertemuan melawan Juventus sabtu besok di ajang Serie A Italia, Pelatih AC Milan, Vincenzo Montella menyarankan agar Sang Rival lebih baik untuk menaruh prioritas pada Liga Champions ketimbang menargetkan Scudetto keenam musim ini.

Seperti diketahui, Juventus memang berada dalam jalur yang tepat untuk perburuan treble winner musim ini. Mereka tinggal selangkah lagi ke babak perempat final Liga Champions Eropa, dan nyaris dipastikan bermain di Final Coppa Italia. Sementara di ajang Serie A Italia, Bianconneri masih memegang tampuk kekuasaan Klasemen sementara.

Terkait hal ini, pelatih AC Milan, Vincenzo Montella, memberikan saran kepada sang rival agar lebih fokus kepada Liga champions Eropa, karena mereka sudah memenangkan lima scudetto.

“Andai boleh saya beri saran, sebaiknya mereka lebih fokus pada Liga champions, karena mereka sudah memenangkan banyak Scudetto. Akankah mereka terganggu dengan tampil di tiga kompetisi? Mereka sudah memenangkan banyak hal beberapa tahun terakhir, mereka sudah terbiasa dan akan mampu mengatasinya. Menurut saya hal itu tidak akan mengganggu fokus mereka di Liga champions”

“Di Liga, mereka memang nyaris tak terkalahkan, namun saya tidak ingin memikirkan mereka, kami hanya berpikir tentang diri kami dan menampilkan yang terbaik. Saya tak ingin berbicara soal keberuntungan, kami harus tampil terbaik dengan rasa lapar akan kemenangan. Juventus sangatlah kuat, mereka bisa mendominasi dan mencetak gol pada waktu yang tepat. Dan mereka bisa memberikan dorongan lebih di Juventus Stadium.” tutur Montella dalam jumpe pers.

Presiden FIFA bicara Soal Aksi Diving Luis Suarez

Infantino tidak bisa menilai apakah insiden tersebut patut disebut sebagai pelanggaran atau tidak, namun yang jelas, Presiden FIFA berharap agar selanjutnya tidak ada lagi insiden kontroversial yang membuat wasit disalahkan, tentu saja, dengan adanya bantuan Teknologi Video Assistance Referee (VAR).

Comeback Bersejarah Barcelona di babak 16 besar Liga Champions Eropa harus diwarnai dengan insiden Kontroversial, tak lain mengenai jatuhnya Luis Suarez di Kotak Penalti yang kemudian berbuah penalti dan gol kelima Barcelona dalam laga kontra PSG Kemarin. Terkait hal ini, Presiden FIFA, Gianni Infantino, turut angkat bicara.

Sebagaimana diketahui, Barcelona menang dengan skor telak 6-1 atas Paris Saint-Germain di leg kedua babak 16 besar Liga Champions Eropa. Insiden pelanggaran terhadap Luis Suarez yang melahirkan penalti Neymar di menit-menit akhir laga menjadi sorotan dalam laga tersebut. Banyak yang berpendapat bahwa Striker Uruguay itu melakukan aksi Diving.

Akan tetapi, Presiden FIFA, Gianni Infantino sendiri menganggap bahwa wasit Denis Aytekin yang memimpin laga tersebut mengambil keputusan yang tidak jelas.

”Apakah dalam kasus tertentu ada sebuah keadilan atau tidak? Kami sendiri bisa meninggalkan keputusan agar bisa diambil oleh wasit. Yang kita saksikan adalah sebuah pertandingan luar biasa, bagaimanapun hasil akhir dalam pertandingan tersebut”

”Pertandingan itu menunjukkan bahwa sepakbola memang merupakan permainan yang fantastis. Kapanpun ada perasaan yang pernah dilihat, beberapa lainnyua belum pernah anda ketahui, bagi saya, ini adalah pertandingan yang luar biasa berkesan”

”Kami harus tetap berhati-hati dalam federasi sepakbola Internasional, apabila tak ingin bersentuhan dengan segala aturan yang ada, karena sepakbola merupakan permainan yang menakjubkan. Pada kasus ini, saya sendiri tidak tahu, apakah itu memang kesalahan wasit atau tidak”

”Namun di masa mendatang, ketika jelas ada sebuah kesalahan, maka akan dikoreksi oleh VAR, jadi bisa ada pertandingan-pertandingan krusial tanpa dihantui oleh kesalahan wasit” Demikian kata suksesor Sepp Blater ini.

Radja Nainggolan Masih Yakin Roma Treble Winner

Bagi gelandang Internasional Belgia tersebut, AS Roma masih berada di jalur yang tepat untuk memenangi Treble winner musim ini. Nainggolan juga menanggapi kritik sebagai salah satu bagian dari Sepakbola, dan dia yakin timnya masih bisa mengejar ketertiggalan di tiga kompetisi tersebut pada sisa musim ini.

AS Roma mendapati sejumlah hasil negatif dalam beberapa pekan terakhirnya, entah di ajang Serie a Italia, Coppa Italia dan Liga Europa. Namun demikian, Gelandang andalan gialorossi, Radja Nainggolan menolak menyerah mengejar treble winner pada kampanye musim ini.

Sebagai informasi, Roma memang berada di jalur yang tepat untuk memenangkan trofi Serie A Italia, Coppa Italia dan Liga Europa. Namun, dalam lima pertandingan terakhirnya, Gialorossi menelan tiga kekalahan beruntun, termasuk takluk 2-0 dari Lazio di leg pertama semi-final Coppa Italia dan berlanjut dibekap Napoli 2-1 sehingga membuat Giallorossi sudah berjarak delapan poin dari puncak klasemen Serie A Italia.

Sementara itu di ajang Liga Europa, Roma dikalahkan Lyon lewat skor akhir 4-2 pada leg pertama babak 16 besar. Situasi ini membuat mereka diragukan meraih treble winner yang jadi target awal musim. Meski demikian, Nainggolan tetap menyuarakan optimismenya untuk bisa merengkuh treble winner musim ini.

“Memang, belakangan ini banyak kritik yang ditujukan kepada kami. Tapi sebagai pemain sepakbola, itu adalah hal yang normal. Kami baru saja kalah beruntun, tetapi peluang kami belum habis. Kami masih bisa mengatasi defisit di Coppa dan Faktanya, kami juga masih menempati peringkat kedua di klasemen Liga,”

“Sejauh ini, musim kami berjalan bagus, kami berada di trek yang tepat untuk memenangi tiga kompetisi. Kami siap bermain lebih baik lagi,” Demikian kata Nainggolan kepada reporter.

Sadio Mane Enggan Pikirkan Torehan Golnya

Mencetak 12 gol bersama Liverpool musim ini tak lantas membuat Mane bersombong diri, dia menegaskan bahwa ambisi pribadi tidaklah penting, yang paling penting adalah kemenangan tim. Winger Internasional Senegal mengklaim bahwa dirinya adalah seorang pemain Tim.

Sadio Mane, Winger berusia 24 tahun tersebut tampil gemilang bersama Liverpool semenjak didatangkan dari Southampton pada bursa transfer musim panas kemarin. Sejauh ini, sang pemain telah mencetak 12 gol, namun Mane sendiri enggan mementingkan catatan pribadinya.

Liverpool musim ini memang tidak terlalu konsisten, terkadang mereka kalah, namun tak jarang juga meraih kemenangan. Tapi yang jelas, sekarang The Reds berada di zona Liga Champions Eropa di klasemen sementara, dimana pencapaian ini tak terlepas dari kontribusi seorang Sadio Mane. Akan tetapi, Winger asal Senegal tersebut sendiri tak pernah menganggap bahwa ambisi pribadinya adalah kepentingan, tidak ada yang lebih penting dibandingkan kemenangan tim.

”Sejujurnya, saya adalah seorang pemain yang tidak menganggap hal seperti ini penting, saya adalah seorang pemain Tim. Yang paling penting adalah selalu mencetak sejumlah gol demi tim agar bisa meraih kemenangan”

”Itulah yang selalu menjadi prioritas utama kami di sini, entah itu adam Lallana yang mencetak gol, atau saya, atau Philippe Coutinho, atau pemain manapun, yang paling penting adalah tiga poin” Kata Mane sebagaimana dilansir LiverpoolFC.com.

Lebih Lanjut, Mane berbicara mengenai performa timnya saat hadapi Arsenal akhir pekan kemarin.

”Performa tim sangat luar biasa dalam pertandingan tersebut, masing-masing memberikan yang terbaik, menekan lawan dengan sangat keras. Itu adalah hal yang bagus bagi kami, utamanya bagi para striker, karena mencetak gol sangat penting bagi kepercayaan diri tim ini” Tandasnya.

Injak Kepala Ibra, Tyrone Mings Disanksi 5 Pertandingan

Keputusan tersebut tidak bisa diterima oleh Bournemouth selaku klub pemilik sang pemain. Mereka menegaskan bahwa Mings telah meminta maaf kepada ibrahimovic dalam pertandingan dan selepasnya. Sang pemain juga sudah menjelaskan kepada wartawan bahwa kejadian itu bukan disengaja.

Bek Bournemouth, Tyrone Mings, mendapati sanksi suspensi lima pertandingan dari pihak Asosiasi Sepakbola Inggris, FA. Seperti diketahui, bek Bournemouth dan penyerang Manchester United itu terlibat insiden dalam laga kedua tim yang berakhir imbang 1-1, pada akhir pekan kemarin.

Ibrahimovic memang tertangkap kamera menyikut kepala Mings dalam situasi duel udara, hal itu diartikan sebagai balasan selepas tindakan Mings yang menginjak Ibra tak lama sebelumnya. Ibra mendapat sanksi suspensi tiga laga, sementara Mings mendapati sanksi suspensi yang lebih berat, 5 pertandingan. Hal tersebut membuat pihak the Cherries merasa geram.

“Pihak Klub sangat kecewa terkait keputusan Komisi Peraturan FA yang telah memutuskan bahwa Tyrone Mings bersalah dalam insiden itu dan menghukumnya dengan suspensi lima pertandingan,”

“Kami akan mempelajari alasan sanksi ini, tapi kami tidak melihat adanya unsur kesengajaan dalam insiden tersebut. Bagi kami, itu adalah kejadian yang tidak disengaja. Sang pemain sudah meminta maaf kepada Ibra sebanyak dua kali, selepas laga, dia juga menjelaskan kepada wartawan, bahwa insiden itu tidak disengaja.” demikian pernyataan resmi dari Bournemouth.

Pihak klub juga menjelaskan bahwa Mings bukanlah pemain yang kasar, karena faktanya, dia tidak pernah menerima kartu merah dalam 75 laga. Dalam periode itu, Mings hanya menerima 13 kartu kuning, dengan kartu kuning terakhir diterimanya pada bulan April 2015 lalu.

FA sendiri masih belum memberikan pernyataan resmi terkait dengan tanggapana dari Bournemouth ini.

Jika Tak Hasilkan Trofi, Spalletti Siap Angkat Kaki dari Roma

Pelatih berusia 58 tahun itu menyimpulkan, ketika dirinya tidak bisa memenangkan trofi bagi klub, maka itu artinya dia tidak lebih baik dibandingkan pelatih sebelumnya, dengan demikian, Spalletti akan meninggalkan Roma jika memang hal tersebut terjadi.

AS Roma sepertinya harus tetap memikirkan kemungkinan mencari pelatih baru pada musim panas mendatang, pasalnya, manajer mereka saat ini, Luciano Spalletti baru saja mengatakan bahwa dia tidak akan melanjutkan pekerjaannya bersama Gialorossi jika memang pada akhir musim ini tak mampu menghadirkan gelar juara bagi klub.

Seperti diketahui, Luciano Spalletti saat ini tengah menjalani periode keduanya sebagai pelatih AS Roma. Pelatih asal Italia itu ditunjuk untuk menggantikan rudi Garcia yang didepak dari kursi pelatih pada musim dingin tahun 2016 kemarin. Di Musim pertamanya, Spalletti mampu membawa Roma bermain di ajang Liga Champions Eropa, meski hanya menangani klub selama setengah musim.

Sedangkan musim ini, Roma berada di peringkat kedua klasemen sementara, bermain di ajang Liga Europa dan Coppa Italia. Tapi situasinya tidak begitu kondusif bagi Gialorossi, di Klasemen sementara, mereka tertinggal delapan poin dari pemuncak, Juventus. Sedangkan dia ajang Liga europa, baru saja dikalahkan Lyon dengan skor 4-2 pada babak 16 besar leg pertama, di Coppa, Roma memiliki pekerjaan yang berat usai ditekuk oleh Lazio pada leg pertama babak semifinal.

Jika pada akhirnya kembali gagal meraih gelar juara, maka Pelatih lah yang paling bertanggung jawab. Spalletti sendiri mengaku siap dirinya mundur dari kursi pelatih andai memang tak menghasilkan gelar di akhir musim ini.

“Untuk berbagai alasan, menang sangat penting di sini, Kami tak memiliki waktu untuk berpikir kemajuan bertahan, semuanya dipercepat, dengan kekuatan penuh. ”

“Jadi ini sangat sederhana: jika saya tidak memenangkan sesuatu, artinya saya tidak melakukan yang lebih baik ketimbang pendahulu saya dan, sebagai hasilnya, saya harus pulang.” kata Spalletti kepada L’Equipe.

Lima pemain timnas Argentina yang Mungkin Dicoret dari Piala Dunia 2018

Lima pemain timnas Argentina yang Mungkin Dicoret dari Piala Dunia 2018

Tiap pelatih sepertinya mendapatkan kesulitan dalam menentukan 23 pemain yang ikut bersaing di Piala Dunia 2018 mendatang. Selain harus prima, mereka juga harus memiliki kemampuan yang begitu tangguh. Salah satu yang mendapat dilema yakni pelatih timnas Argentina, Jorge Sampaoli. Pasalnya, timnas ini hanya dapat membawa 23 pemainnya padahal mereka memiliki banyak pemain yang mengesankan.

Berikut lima pemain yang mungkin tidak diikut sertakan Jorge Sampaoli sebagai pemain timnas Argentina di Piala Dunia 2018 mendatang.

1. Enzo Perez
Pemain yang saat ini tergabung di River Plate yakni Enzo Perez, sepertinya tak akan masuk seagai pilihan Sampaoli. Pasalnya, dia sudah kalah bersaing dengan pemain hebat lainnya, yakni Lucas Biglia, Ever Banega sampai Javier Mascherano.

Apalagi pada prediksi bola selama musim ini, Perez tak dapat menciptakan gol. Jadi, demi menambah peluangnya, pemain ini harus dapat meningkatkan performanya apalagi dengan umur yang sudah mencapai 32 tahun.

2. Ezequiel Lavezzi
Di tahun 2016 lalu, Ezequiel Lavezzi memutuskan pindah ke klub China Super League, Hebei China Fortune, padahal karirnya di Paris St Germain begitu baik. Di klub ini, Lavezzi memang mendapatkan pendapatan sekitar Rp7,7 miliar per pekan yang merupakan gaji tertinggi di dunia.

Itu sebabnya, banyak pihak yang menilai jika Lavezzi tak akan menjadi pilihan Jorge Sampaoli di timnas.

3. Manuel Lanzini
Walau dalam kondisi yang gemilang bersama West Ham United, Manuel Lanzini diyakini tidak akan masuk ke Piala Dunia 2018 di Rusia nanti. Padahal, bakat pemain ini sangat apik dengan catatan tiga gol dan enam assist yang menjadikan klubnya lepas dari zona degradasi.

Akan tetapi, posisinya memang dipenuhi pemain yang lebih handal, yakni Paulo Dybala dan Angel Di Maria. Namun, namanya sempat mengisi skuad dalam laga ujicoba mereka beberapa waktu yang lalu. Jika terus tampil dengan baik, bukan tak mungkin Sampaoli memikirkan namanya.

4. Javier Pastore
Javier Pastore menjadi salah satu pemain timnas Argentina di Piala Dunia 2018 yang kesulitan masuk ke skuat timnas. Minim bermain bersama PSG, menjadi alasannya. Walau begitu, pemain ini justru masih akan bertahan di PSG.

Lantas, Pastore tetap akan berjuang demi masuk menjadi salah satu pemain timnas Argentina. Dia yakin dapat tampil setelah pernah mengisi skuad di tahun 2014 lalu.

5. Mauro Icardi
Penyerang dan kapten Inter Milan ini menjadi salah satu yang membuat Sampaoli dilema. Icardi selama musim ini selalu konsisten menciptakan gol untuk Milan. Dari 25 laga dengan tim, Icardi sudah mencatatkan 23 gol.

Namun, bukan hanya akan bersaing dengan Lionel Messi, Paulo Dybala, hingga Gonzalo Higuain di posisinya, ia juga mendapatkan masalah dengan skandal perselingkuhan bersama fans timnas Argentina. Tindakannya tersebut jelas membuatnya sulit masuk ke daftar pemain timnas Argentina di Piala Dunia 2018 mendatang.

Alexis Sanchez bisa Berkhianat ke Chelsea

Alexis Sanchez bisa Berkhianat ke Chelsea Arsenal menjual Alexis Sanchez ke Chelsea bukan sesuatu yang mustahil, meski keduanya berstatus rival di Liga Primer, demikian menurut salah seorang pemain The Gunners, Paul Merson. Menurutnya, jika klub tak mampu finish di empat besar, maka pemain Chile bakal hengkang.

Spekulasi kepindahan Alexis Sanchez dari Arsenal kembali menggema, Penyerang Internasional Chile tersebut dirumorkan dengan sejumlah raksasa Eropa. Bahkan, klaim terbaru meyakini bahwa eks Barcelona tersebut bakal bersedia berkhianat ke salah satu rival sekota Arsenal, Chelsea.

Sebagaimana diketahui, belakangan ini masa depan Sanchez di Emirates memang diperbincangkan sejumlah media Inggris. Sejumlah klub dikaitkan dengan mantan pemain Barcelona tersebut, mulai dari Bayern Munchen, Juventus, Paris Saint-Germain dan beberapa klub besar Eropa lainya. Namun, mantan pemain Arsenal, Paul Merson, justru meyakini bahwa Sanchez bisa berkhianat ke klub Rival Sekota, Chelsea.

“Menurut saya, Sanchez akan meninggalkan Arsenal pada musim panas nanti, jika memang mereka berhasil menembus Liga Champions, dia akan bertahan, tapi jika tidak, Sanchez mungkin tidak akan bertahan. Saya tahu cara kerja Arsenal, jadi tidak ada alasan mereka tidak melepas Sanchez jika mereka bisa mendapatkan 50 juta Poundsterling dari penjualannya musim panas ini.”

“Arsenal tidak akan ragu melepasnya ke Chelsea, jika mereka mendapatkan 50 Juta pounds dari penjualan tersebut, maka saya rasa Arsenal tidak akan menahan kepergiannya, dia tidak membiarkan sang pemain pergi secara percuma, Orang bilang ‘Oh, mereka tidak akan menjualnya ke Chelsea’, tapi mereka melepas Van Persie ke Manchester United jadi mereka tidak akan repot dengan hal itu. ”

“Ya, menurut saya dia akan bergabung dengan Chelsea, dan dia adalah pemain kelas dunia yang akan fit dengan The Blues. Jika mereka dapat merekrut Sanchez seharga 50 Juta Poundsterling, dan mereka akan mendapatkan 100 juta Pounds dari penjualan Hazard, saya pikir itu bisnis bagus.” kata Merson kepada Sporting Life.

Pemain RB Leipzig Ini Ingin Sukses seperti Messi

Pemain RB Leipzig Ini Ingin Sukses seperti Messi Naby keita menganggap bahwa Lionel Messi adalah pemain terbaik dunia saat ini, dan dia ingin mencapai sukses seperti yang dicapai pemain Argentina tersebut. Namun, untuk sekarang ini, gelandang berusia 22 tahun sepenuhnya fokus pada penampilannya bersama Leipzig.

Pemain termahal RB Leipzig Naby Keita berhasil menjadi sorotan sejumlah raksasa Eropa menyusul performa gemilangnya bersama dengan klub Bundesliga Jerman tersebut. Sang pemain sendiri ternyata memiliki ambisi untuk bisa menjadi pemain sukses seperti bintang Barcelona, Lionel Messi.

Memang harus diakui, pemain berusia 22 tahun tersebut tampil mengesankan bersama dengan RB Leipzig sejak didatangkan dari Salszburg pada musim panas kemarin. Gelandang internasional Guinea ini telah mencetak enam gol dan delapan assist dalam 23 penampilan liga di klub baru dan sukses menarik perhatian sejumlah klub elite Eropa.

Lewat pernyataan terbarunya, sang pemain mengaku senang dengan peningkatan yang dia alami, namun tahu tahu persis bagaimana masa depannya nanti. Dia juga mengaku ingin sukses seperti Bintang Barcelona, Lionel Messi. Tapi, Keita juga sadar bahwa untuk sukses seperti Messi, membutuhkan sebuah proses yang tidak singkat.

“Saya sendiri tidak tahu persis dengan masa depan saya, tapi saya ingin terus meningkat. Saya melihat hidup dan karier saya sebagai tangga yang ingin saya daki selangkah demi selangkah,”

“Saat ini saya relatif kecil, pesepakbola tidak penting, tapi saya ingin tumbuh dan sukses. Saya bermimpi menjadi pemain terbaik di Afrika, dan suatu hari nanti di dunia. Lionel Messi menurut saya adalah pemain terbaik di dunia saat ini, dan saya ingin meraih sukses seperti dirinya.” kata Keita kepada laman resmi Bundesliga.

Paco Alcacer Tak Kecewa Meski Jarang Dimainkan

Paco Alcacer Tak Kecewa Meski Jarang Dimainkan Mantan pemain Valencia itu mengaku bahagia bisa membantu timnya (Barcelona) dengan cara apapun, termasuk turun dari bangku cadangan. Saat pelatih memintanya untuk bermain dari bangku cadangan, maka Alcacer akan melakukannya dan berusaha memainkan performa terbaik.

Paco Alcacer, penyerang anyar Barcelona ini angkat bicara mengenai situasinya bersama dengan Raksasa Catalan, dimana sejak bergabung, yang bersangkutan selalu diturunkan dari bangku cadangan. Mungkin terlihat sulit, tapi Alcacer sama sekali tidak mempermasalahkannya.

Striker berusia 23 tahun tersebut direkrut Blaugrana dari Valencia di awal musim 2016/17 dengan tujuan menambah kualitas dan kedalaman lini depan. Namun, Alcacer tak mampu menunjukkan dampak besar sejauh ini dan kesulitan menggusur eksistensi trio Lionel Messi, Luis Suarez dan Neymar.

Ya, jatahnya bermain hanya sebatas sebagai pemain pengganti, turun dari bangku cadangan, seperti saat berhadapan dengan Granada akhir pekan kemarin yang berkesudahan dengan skor 1-4, dimana dalam laga tersebut, Alcacer turut menyumbang satu gol kemenangan bagi tim tamu.

Terkait dengan jatahnya yang lebih sering turun sebagai pemain cadangan, mantan pemain Valencia itu mengaku tidak masalah, karena keinginannya adalah membantu klub dengan cara apapun, termasuk dengan cara turun dari bangku cadangan.

“Saya bahagia bisa membantu tim dengan cara apa pun yang saya bisa, Pelatih meminta saya untuk masuk dari bangku cadangan dan itulah yang saya lakukan. Setiap pemain di skuat harus selalu siap jika diminta untuk bermain.” Demikian kata Alcacer sebagaimana dilansir Marca.

Sebagai informasi, musim ini, Alcacer telah mengoleksi tak kurang dari empat gol dari 19 penampilannya bersama dengan Barcelona, tujuh diantaranya sang pemain turun sebagai starter.